<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Edi Susanto dot Com &#187; Ibu</title>
	<atom:link href="http://www.edisusanto.com/tag/ibu/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.edisusanto.com</link>
	<description>Ruang-ku Untuk Berbagi Cerita</description>
	<lastBuildDate>Fri, 16 Dec 2011 22:53:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Delapan Kebohongan Seorang Ibu Dalam Hidupnya</title>
		<link>http://www.edisusanto.com/delapan-kebohongan-seorang-ibu-dalam-hidupnya/</link>
		<comments>http://www.edisusanto.com/delapan-kebohongan-seorang-ibu-dalam-hidupnya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Dec 2008 09:43:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bart. Edi</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Daily Life]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Ibu]]></category>
		<category><![CDATA[Ibu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.edisusanto.com/?p=605</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini adalah hari ibu, saya pikir anda semua sudah tahu. Meskipun saya kurang setuju sebetulnya dengan hari ibu, seolah-olah kita harus selalu diingatkan pengorbanan dari seorang ibu tetapi di sisi lain saya pikir hal itu juga harus di lakukan agar ada penghormatan khusus atas pengorbanan seorang ibu. Padahal kita sama sekali TIDAK BOLEH lupa akan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-606" style="margin: 5px;" src="http://www.edisusanto.com/wp-content/uploads/2008/12/mom-flower2.gif" alt="" width="150" height="100" />Hari ini adalah hari ibu, saya pikir anda semua sudah tahu. Meskipun saya kurang setuju sebetulnya dengan hari ibu, seolah-olah kita harus selalu diingatkan pengorbanan dari seorang ibu tetapi di sisi lain saya pikir hal itu juga harus di lakukan agar ada penghormatan khusus atas pengorbanan seorang ibu. Padahal kita sama sekali <strong>TIDAK BOLEH</strong> lupa akan pengorbanan dari ibu kita barang sedetik pun. Seorang yang rela mengorbankan nyawanya bagi hidup kita. Berikut ini ada kisah yang sangat menarik tentang sosok ibu, kisah ini saya ambil dari mailing list. Yah, memang artikel ini adalah hanya artikel <em>copy-past</em>e, tapi lihat makna-nya yang sangat dalam. Jujur saja saya tidak tahu penulis asli dari kisah ini, saya mohon maaf sebelumnya kalo saya telah memuat tulisan ini tanpa ijin sang penulis. Jika ada yang keberatan, artikel ini akan segera  saya hapus dari blog ini. Tapi di sisi lain, ijinkan saya untuk menampilkan cerita yang luar biasa ini barang sejenak.<span id="more-605"></span></p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212; Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah ini justru sebaliknya. Dengan adanya kebohongan ini, makna  sesungguhnya dari kebohongan ini justru dapat membuka mata kita dan  terbebas dari penderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu mendorong  mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia.</p>
<p><strong>KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA</strong><br />
Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan  saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata : &#8220;Makanlah nak, aku tidak lapar&#8221;</p>
<p><strong>KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA<br />
<span style="font-weight: normal;">Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekiat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk disamping gw dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan sumpitku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan  cepat menolaknya, ia berkata : &#8220;Makanlah nak, aku tidak suka makan  ikan&#8221;</span></strong></p>
<p><strong><span style="font-weight: normal;"><strong>KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA<br />
<span style="font-weight: normal;">Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang  untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun  dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan  dengan gigihnya melanjutkan pekerjaanny menempel kotak korek api. Aku berkata :&#8221;Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih harus kerja.&#8221; Ibu tersenyum dan berkata : &#8220;Cepatlah tidur nak, aku tidak capek&#8221;</span></strong></span></strong></p>
<p><strong>KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT<br />
<span style="font-weight: normal;">Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah  selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah  disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental  tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata : &#8220;Minumlah nak, aku tidak haus!&#8221;</span></strong></p>
<p><strong>KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA</strong><br />
Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata : &#8220;Saya tidak butuh cinta&#8221;</p>
<p><strong>KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM</strong> <br />
Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : &#8220;Saya punya duit&#8221;</p>
<p><strong>KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH</strong> <br />
Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku &#8220;Aku tidak terbiasa&#8221;</p>
<p><strong>KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN</strong> <br />
Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku  dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya  terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas  betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat  lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air  mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti  ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : &#8220;Jangan menangis anakku, Aku tidak kesakitan&#8221;</p>
<p>Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.</p>
<p>Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : &#8221; Terima kasih ibu ! &#8221;</p>
<p>Coba dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon ayah ibu kita? Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan ayah ibu kita? Di tengah-tengah aktivitas kita yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah.</p>
<p>Jika dibandingkan dengan pacar kita, kita pasti lebih peduli dengan pacar kita. Buktinya, kita selalu cemas akan kabar pacar kita, cemas apakah dia sudah makan atau belum, cemas apakah dia bahagia bila di samping kita.</p>
<p>Namun, apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari ortu kita? Cemas apakah ortu kita sudah makan atau belum? Cemas apakah ortu kita sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita renungkan kembali &#8230;</p>
<p>Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi ortu kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata &#8220;MENYESAL&#8221; di kemudian hari. &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p>Ketika saya membaca cerita di atas ngga terasa saya ikut <em>mbrebes mili</em>, benar-benar saya sudah di tegur, sudahkah saya mencintai mama saya dengan segenap hati saya. Saya sampai lupa kapan saya terakhir mencium mama saya bahkan saya pernah lupa nama mama saya (apa ora kebangeten saya ini&#8230;) . Saya berjanji saya akan membalas jasa-jasa mama, meskipun saya tahu hal itu tidak mungkin saya lakukan, kita ngga mungkin membalas jasa dari ibu kita.</p>
<p>Dan saya juga tahu, uang juga tidak bisa menjadi alat untuk membalas kebaikan mama meskipun hanya sekuku kelingking&#8230;. Saya hanya bisa berkata dalam hati saya, &#8221; Terima kasih mama atas semua jasa dan pengorbanan mama selama ini yang dengan suka rela memberikan seluruh hidupmu buat anakmu yang tidak tahu diri ini&#8230;&#8230;.&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.edisusanto.com/delapan-kebohongan-seorang-ibu-dalam-hidupnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pilihan Mulia Seorang Ibu</title>
		<link>http://www.edisusanto.com/pilihan-mulia-seorang-ibu/</link>
		<comments>http://www.edisusanto.com/pilihan-mulia-seorang-ibu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Aug 2008 14:24:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bart. Edi</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Daily Life]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Ibu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.edisusanto.com/?p=218</guid>
		<description><![CDATA[Ketika saya membaca artikel Kompas ini, saya jadi teringat kejadian 5 tahun yang lalu, ketika istri saya mulai hamil dan memasuki umur 2-3 bulan. Ketika itu saya dan istri saya dihadapkan kepada pilihan yang tidak gampang untuk memilih opsi-opsi di dalamnya. Karena ini menyangkut masa depan calon buah hati kami nanti. Seperti yang anda ketahui [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika saya membaca <a href="http://www.kompas.com/read/xml/2008/08/06/10290067/tipe.ibu.manakah.anda" target="_blank">artikel Kompas ini</a>, saya jadi teringat kejadian 5 tahun yang lalu, ketika istri saya mulai hamil dan memasuki umur 2-3 bulan. Ketika itu saya dan istri saya dihadapkan kepada pilihan yang tidak gampang untuk memilih opsi-opsi di dalamnya. Karena ini menyangkut masa depan calon buah hati kami nanti.<span id="more-218"></span></p>
<p>Seperti yang anda ketahui bahwa pembentukan karakter seorang manusia itu ditentukan pada 5 tahun pertamanya. Bagaimana dia diajari dari lingkungannya, itu berarti kondisi lingkungannya pada umur 0-5 tahun itulah yang mempunyai peran sangat besar pada pembentukan karakter seorang anak dan sangat besar kemungkinan karakter itulah yang akan dibawa seumur hidupnya.</p>
<p>Melihat artikel-artikel semacam itulah yang membuat istri saya menjadi bimbang waktu itu. Waktu itu istri saya mempunyai karir yang bagus di perusahaan dimana dia bekerja dan dia sudah mulai merasa cocok pada perusahaannya itu, tentu saja gaji yang lumayan pun diterimanya. Waktu itu kami sedang memulai hidup sebagai pasangan pengantin baru dan mempunyai sebuah rumah baru yang dibeli melalui KPR sehingga kami harus menyicilnya setiap bulan dengan jumlah cicilan yang menurut kami sebetulnya lumayan besar. Sehingga jika waktu itu istri saya memilih keluar kerja tentu kondisi keuangan rumah tangga kami itu akan sedikit terguncang.</p>
<p>Tetapi pilihan harus tetap dipilih. Memang pilihan istri waktu itu sangat berat, mengorbankan masa depan karir-nya atau mengorbankan masa depan anak saya, begitu teman saya waktu itu memberikan kalimat yang cukup tegas terhadap permasalahan kami tersebut. Istri saya sama sekali tidak percaya jika harus dititipkan ke seorang yang sama sekali lain (baby sitter). Karena banyak pengalaman buruk yang menimpa teman-teman-nya karena memakai seorang baby sitter. Tentu hal tersebut akan mengorbankan masa depan anak kami nanti. Tetapi kalau istri saya memilih keluar dari pekerjaan tentu selain keuangan rumah tangga semakin berat, dia juga akan membuang karir yang sudah dibinanya mati-matian selama bertahun-tahun. Tapi <em>on other side</em>, karena jam kerja kami berdua sama, jadi dijamin calon anak kami tersebut tidak akan bertemu dengan orang tuanya selama 8 jam setiap harinya, itu berarti 48 jam seminggu, itu berarti 2.400 jam setahun dan ketika dia menginjak 5 tahun, 12.100 jam dia tidak bertemu dengan kedua orang tuanya. Wow, angka yang luar biasa&#8230;</p>
<p>Pada umur sang bayi sudah menginjak 6 bulan, akhirnya pilihan tersebut harus segera di centang salah satu untuk harus segera dilaksanakan. Akhirnya, istri saya dengan hati yang mantap dia memilih untuk mengorbankan masa depan karir-nya dan memilih melindungi masa depan anak kami nanti. Saya waktu itu sempat terharu melihat kemantapan hatinya yang 3 bulan sebelumnya menjadi dilema besar buat dia. Dia bertekad untuk membentuk karakter anak-nya kelak dengan tangannya sendiri. Daripada nyawa anaknya diserahkan pada orang lain. Dia ingin setiap menit bahkan detik perkembangan anak-nya tersebut ada dalam pengawasan mata-nya sendiri tidak melalui cerita dari si pengasuhnya.</p>
<p>Istri saya pernah bertanya pada saya, &#8220;Apakah nanti Farrel (nama anak kami), tahu akan pengorbanan saya?&#8221;. Saya pun menjawab, &#8220;Ketika hamil, kamu yang merasakan sakit, ketika melahirkan kamu yang memberikan separuh nyawa kamu dan nanti setelah lahir pun kamu membuang semua masa depan karir kamu. Ya, nanti pasti Farrel akan tahu&#8230;&#8221;</p>
<p>Banyak pertanyaan atas sikap istri saya tersebut, bagaimana dengan pendapatan rumah tangga? Uang tidak bisa di dapat dari perusahaan saja, banyak sekali cara mendapatkan uang dari rumah, dari menjahit, membuat roti, bisnis internet, kerajinan dan masih banyak lagi. Dan sekarang istri saya pun baru merintis apa yang bisa dikerjakan di rumah untuk menambah pendapatan rumah tangga kami karena anak kami sekarang ini sudah mulai sekolah dan banyak waktu luang yang bisa digunakan.</p>
<p>Beberapa ibu sering kali, tidak mau mengorbankan masa depan karirnya dengan berbagai alasan. Dari tidak mau kesepian di rumah, takut kehilangan pendapatan, takut kehilangan teman-teman sekerja. Tapi apakah anda tidak takut akan kehilangan masa depan anak yang anda kasihi, apakah anda juga tidak memikirkan anak anda juga membutuhkan belaian kasih sayang dari tangan ibunya sendiri, apakah anda tahu bahwa anak anda juga kesepian jika tidak berada di dalam dekapan ibunya? Jika anda telah mengorbankan segalanya buat anak anda, anda adalah seorang ibu yang sangat mulia&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.edisusanto.com/pilihan-mulia-seorang-ibu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

