Sistem Yang Merugikan
Kemarin saya dan anak saya makan disatu resto cepat saji di Galeria Mal lantai dasar. Disana memang terpampang gambar-gambar makanan yang memang menggiurkan. Lalu saya suruh anak saya untuk memilih makanan yang dia suka, akhirnya dia pingin memilih makanan dari ayam, makanan dari Korea. Akhirnya si kasir memasukkan pesanan anak saya ke cash registernya. Nah, dari sini ceritanya dimulai.
Selang dua detik, anak saya melihat lagi gambar udang yang digoreng pakai tepung, lalu dia meminta sama saya mengganti pesanannya dengan paket yang pakai udang itu dan harganya lebih mahal karena termasuk paket yang supreme (atau apalah namanya).
Tetapi ketika hal itu saya sampaikan ke kasirnya, dengan wajah yang meremehkan, si kasir langsung bilang, “Lho, udah dimasukkan ke komputer, udah ngga bisa…”. Akhirnya anak saya menangis gara-gara “udah dimasukkan ke komputer itu”. Dengan agak dongkol sih, akhirnya mau ngga mau tetap makan yang pesanan pertama.
Saya berpikir, kenapa gara-gara sistem perusahaan itu kehilangan chance nya untuk dapat uang lebih banyak. Seandainya, pesanan itu bisa di void (seperti di swalayan begitu), dari saya aja dia bisa dapat pesanan yang lebih mahal dan itu berarti income plus buat perusahaannya. Kenapa gara-gara sistem yang begitu sepele dia tidak mau merubahnya untuk mendapatkan kemungkinan omzet yang lebih besar.
Dan juga, rating kenyamanan pelanggannya pun akan tetap terjaga.
Artikel-artikel Yang Berhubungan Dengan Artikel Ini
- Welcome To 01 01 10 (January 1st, 2010)
- HUT RI ke-64 di Google.co.id (August 17th, 2009)
- Pamit Rehat Sebentar… (March 16th, 2009)
- Gong Xi Fa Cai 2560 (January 26th, 2009)
- Hore, iPhone Segera Hadir di Indonesia! (January 24th, 2009)





Putra eka on May 30th, 2008
Weh, lebih baik posting ini dibaca pihak tersebut agar mereka bisa memperbaiki pelayanan kepada pelanggannya.