<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Edi Susanto dot Com &#187; Renungan</title>
	<atom:link href="http://www.edisusanto.com/category/renungan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.edisusanto.com</link>
	<description>Ruang-ku Untuk Berbagi Cerita</description>
	<lastBuildDate>Fri, 16 Dec 2011 22:53:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Welcome To 01 01 10</title>
		<link>http://www.edisusanto.com/welcome-to-01-01-10/</link>
		<comments>http://www.edisusanto.com/welcome-to-01-01-10/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Jan 2010 23:53:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bart. Edi</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Daily Life]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Ucapan Selamat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.edisusanto.com/welcome-to-01-01-10/</guid>
		<description><![CDATA[Tidak terasa 12 bulan di 2009 sudah kita lewati&#8230;. Jangan sesali apa yang sudah terjadi di 2009 Yang penting buat sesuatu yang lebih baik di 2010&#8230; Dan itu di mulai pada hari ini 01 01 10&#8230; Selamat Tahun Baru 2010!]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tidak terasa 12 bulan di 2009 sudah kita lewati&#8230;.</p>
<p>Jangan sesali apa yang sudah terjadi di 2009<br />
Yang penting buat sesuatu yang lebih baik di 2010&#8230;<br />
Dan itu di mulai pada hari ini <strong>01 01 10</strong>&#8230;</p>
<p>Selamat Tahun Baru 2010!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.edisusanto.com/welcome-to-01-01-10/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mana Yang Dilakukan Lebih Dulu?</title>
		<link>http://www.edisusanto.com/mana-yang-dilakukan-lebih-dulu/</link>
		<comments>http://www.edisusanto.com/mana-yang-dilakukan-lebih-dulu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Feb 2009 23:43:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bart. Edi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[prioritas]]></category>
		<category><![CDATA[priority]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.edisusanto.com/?p=998</guid>
		<description><![CDATA[Hmmm, sudah lama saya tidak menulis artikel tentang artikel bersikap dalam hidup. Kemarin ketika saya bertemu dengan kakak ipar saya, saya di beri beberapa lembar kertas yang berisi artikel-artikel yang mungkin bisa menjadi perenungan saya dan tidak ada salahnya artikel-artikel tersebut saya bagikan kepada rekan-rekan dan bisa sama-sama menjadikan hidup kita lebih baik lagi. Ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-999" title="priority" src="http://www.edisusanto.com/wp-content/uploads/2009/02/priority.jpg" alt="priority" width="170" height="114" />Hmmm, sudah lama saya tidak menulis artikel tentang artikel bersikap dalam hidup. Kemarin ketika saya bertemu dengan kakak ipar saya, saya di beri beberapa lembar kertas yang berisi artikel-artikel yang mungkin bisa menjadi perenungan saya dan tidak ada salahnya artikel-artikel tersebut saya bagikan kepada rekan-rekan dan bisa sama-sama menjadikan hidup kita lebih baik lagi. Ada salah satu artikel itu yang menggelitik saya untuk menampilkannya di blog saya ini.<span id="more-998"></span></p>
<p>Artikel tersebut berjudul <strong>Melakukan Hal Utama Dahulu</strong>, dan demikian isinya:</p>
<ul>
<li>Seorang profesor mengatakan bahwa bila kita melakukan hal-hal sepele atau hal-hal kecil maka kita akan kehilangan kesempatan untuk melakukan hal-hal yang besar atau utama.</li>
<li>Profesor itu mengilustrasikan dengan botol, pasir, kerikil dan bola golf. Dia mengilustrasikan dengan mengisi botol tersebut pertama-tama dengan pasir sampai penuh,  maka kerikil dan bola golf tidak dapat masuk. Kemudian, dia emngisi botol dengan bola golf sampai penuh, kemudian kerikil sampai penuh, baru pasir. Akhirnya, bola golf, kerikil dan pasir semua dapat masuk ke dalam botol.</li>
</ul>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Konklusi:</strong></span> Jika kita melakukan hal-hal utama terlebih dahulu maka kita dapat melakukan hal-hal yang sepele atau kecil lainnya. Tetapi bila kita melakukan hal-hal yang sepele alias kecil terlebih dahulu maka kita bisa kehilangan kesempatan untuk melakukan hal utama.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.edisusanto.com/mana-yang-dilakukan-lebih-dulu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Delapan Kebohongan Seorang Ibu Dalam Hidupnya</title>
		<link>http://www.edisusanto.com/delapan-kebohongan-seorang-ibu-dalam-hidupnya/</link>
		<comments>http://www.edisusanto.com/delapan-kebohongan-seorang-ibu-dalam-hidupnya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Dec 2008 09:43:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bart. Edi</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Daily Life]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Ibu]]></category>
		<category><![CDATA[Ibu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.edisusanto.com/?p=605</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini adalah hari ibu, saya pikir anda semua sudah tahu. Meskipun saya kurang setuju sebetulnya dengan hari ibu, seolah-olah kita harus selalu diingatkan pengorbanan dari seorang ibu tetapi di sisi lain saya pikir hal itu juga harus di lakukan agar ada penghormatan khusus atas pengorbanan seorang ibu. Padahal kita sama sekali TIDAK BOLEH lupa akan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-606" style="margin: 5px;" src="http://www.edisusanto.com/wp-content/uploads/2008/12/mom-flower2.gif" alt="" width="150" height="100" />Hari ini adalah hari ibu, saya pikir anda semua sudah tahu. Meskipun saya kurang setuju sebetulnya dengan hari ibu, seolah-olah kita harus selalu diingatkan pengorbanan dari seorang ibu tetapi di sisi lain saya pikir hal itu juga harus di lakukan agar ada penghormatan khusus atas pengorbanan seorang ibu. Padahal kita sama sekali <strong>TIDAK BOLEH</strong> lupa akan pengorbanan dari ibu kita barang sedetik pun. Seorang yang rela mengorbankan nyawanya bagi hidup kita. Berikut ini ada kisah yang sangat menarik tentang sosok ibu, kisah ini saya ambil dari mailing list. Yah, memang artikel ini adalah hanya artikel <em>copy-past</em>e, tapi lihat makna-nya yang sangat dalam. Jujur saja saya tidak tahu penulis asli dari kisah ini, saya mohon maaf sebelumnya kalo saya telah memuat tulisan ini tanpa ijin sang penulis. Jika ada yang keberatan, artikel ini akan segera  saya hapus dari blog ini. Tapi di sisi lain, ijinkan saya untuk menampilkan cerita yang luar biasa ini barang sejenak.<span id="more-605"></span></p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212; Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah ini justru sebaliknya. Dengan adanya kebohongan ini, makna  sesungguhnya dari kebohongan ini justru dapat membuka mata kita dan  terbebas dari penderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu mendorong  mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia.</p>
<p><strong>KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA</strong><br />
Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan  saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata : &#8220;Makanlah nak, aku tidak lapar&#8221;</p>
<p><strong>KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA<br />
<span style="font-weight: normal;">Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekiat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk disamping gw dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan sumpitku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan  cepat menolaknya, ia berkata : &#8220;Makanlah nak, aku tidak suka makan  ikan&#8221;</span></strong></p>
<p><strong><span style="font-weight: normal;"><strong>KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA<br />
<span style="font-weight: normal;">Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang  untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun  dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan  dengan gigihnya melanjutkan pekerjaanny menempel kotak korek api. Aku berkata :&#8221;Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih harus kerja.&#8221; Ibu tersenyum dan berkata : &#8220;Cepatlah tidur nak, aku tidak capek&#8221;</span></strong></span></strong></p>
<p><strong>KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT<br />
<span style="font-weight: normal;">Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah  selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah  disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental  tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata : &#8220;Minumlah nak, aku tidak haus!&#8221;</span></strong></p>
<p><strong>KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA</strong><br />
Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata : &#8220;Saya tidak butuh cinta&#8221;</p>
<p><strong>KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM</strong> <br />
Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : &#8220;Saya punya duit&#8221;</p>
<p><strong>KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH</strong> <br />
Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku &#8220;Aku tidak terbiasa&#8221;</p>
<p><strong>KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN</strong> <br />
Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku  dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya  terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas  betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat  lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air  mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti  ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : &#8220;Jangan menangis anakku, Aku tidak kesakitan&#8221;</p>
<p>Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.</p>
<p>Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : &#8221; Terima kasih ibu ! &#8221;</p>
<p>Coba dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon ayah ibu kita? Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan ayah ibu kita? Di tengah-tengah aktivitas kita yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah.</p>
<p>Jika dibandingkan dengan pacar kita, kita pasti lebih peduli dengan pacar kita. Buktinya, kita selalu cemas akan kabar pacar kita, cemas apakah dia sudah makan atau belum, cemas apakah dia bahagia bila di samping kita.</p>
<p>Namun, apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari ortu kita? Cemas apakah ortu kita sudah makan atau belum? Cemas apakah ortu kita sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita renungkan kembali &#8230;</p>
<p>Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi ortu kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata &#8220;MENYESAL&#8221; di kemudian hari. &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p>Ketika saya membaca cerita di atas ngga terasa saya ikut <em>mbrebes mili</em>, benar-benar saya sudah di tegur, sudahkah saya mencintai mama saya dengan segenap hati saya. Saya sampai lupa kapan saya terakhir mencium mama saya bahkan saya pernah lupa nama mama saya (apa ora kebangeten saya ini&#8230;) . Saya berjanji saya akan membalas jasa-jasa mama, meskipun saya tahu hal itu tidak mungkin saya lakukan, kita ngga mungkin membalas jasa dari ibu kita.</p>
<p>Dan saya juga tahu, uang juga tidak bisa menjadi alat untuk membalas kebaikan mama meskipun hanya sekuku kelingking&#8230;. Saya hanya bisa berkata dalam hati saya, &#8221; Terima kasih mama atas semua jasa dan pengorbanan mama selama ini yang dengan suka rela memberikan seluruh hidupmu buat anakmu yang tidak tahu diri ini&#8230;&#8230;.&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.edisusanto.com/delapan-kebohongan-seorang-ibu-dalam-hidupnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pilihan Mulia Seorang Ibu</title>
		<link>http://www.edisusanto.com/pilihan-mulia-seorang-ibu/</link>
		<comments>http://www.edisusanto.com/pilihan-mulia-seorang-ibu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Aug 2008 14:24:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bart. Edi</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Daily Life]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Ibu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.edisusanto.com/?p=218</guid>
		<description><![CDATA[Ketika saya membaca artikel Kompas ini, saya jadi teringat kejadian 5 tahun yang lalu, ketika istri saya mulai hamil dan memasuki umur 2-3 bulan. Ketika itu saya dan istri saya dihadapkan kepada pilihan yang tidak gampang untuk memilih opsi-opsi di dalamnya. Karena ini menyangkut masa depan calon buah hati kami nanti. Seperti yang anda ketahui [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika saya membaca <a href="http://www.kompas.com/read/xml/2008/08/06/10290067/tipe.ibu.manakah.anda" target="_blank">artikel Kompas ini</a>, saya jadi teringat kejadian 5 tahun yang lalu, ketika istri saya mulai hamil dan memasuki umur 2-3 bulan. Ketika itu saya dan istri saya dihadapkan kepada pilihan yang tidak gampang untuk memilih opsi-opsi di dalamnya. Karena ini menyangkut masa depan calon buah hati kami nanti.<span id="more-218"></span></p>
<p>Seperti yang anda ketahui bahwa pembentukan karakter seorang manusia itu ditentukan pada 5 tahun pertamanya. Bagaimana dia diajari dari lingkungannya, itu berarti kondisi lingkungannya pada umur 0-5 tahun itulah yang mempunyai peran sangat besar pada pembentukan karakter seorang anak dan sangat besar kemungkinan karakter itulah yang akan dibawa seumur hidupnya.</p>
<p>Melihat artikel-artikel semacam itulah yang membuat istri saya menjadi bimbang waktu itu. Waktu itu istri saya mempunyai karir yang bagus di perusahaan dimana dia bekerja dan dia sudah mulai merasa cocok pada perusahaannya itu, tentu saja gaji yang lumayan pun diterimanya. Waktu itu kami sedang memulai hidup sebagai pasangan pengantin baru dan mempunyai sebuah rumah baru yang dibeli melalui KPR sehingga kami harus menyicilnya setiap bulan dengan jumlah cicilan yang menurut kami sebetulnya lumayan besar. Sehingga jika waktu itu istri saya memilih keluar kerja tentu kondisi keuangan rumah tangga kami itu akan sedikit terguncang.</p>
<p>Tetapi pilihan harus tetap dipilih. Memang pilihan istri waktu itu sangat berat, mengorbankan masa depan karir-nya atau mengorbankan masa depan anak saya, begitu teman saya waktu itu memberikan kalimat yang cukup tegas terhadap permasalahan kami tersebut. Istri saya sama sekali tidak percaya jika harus dititipkan ke seorang yang sama sekali lain (baby sitter). Karena banyak pengalaman buruk yang menimpa teman-teman-nya karena memakai seorang baby sitter. Tentu hal tersebut akan mengorbankan masa depan anak kami nanti. Tetapi kalau istri saya memilih keluar dari pekerjaan tentu selain keuangan rumah tangga semakin berat, dia juga akan membuang karir yang sudah dibinanya mati-matian selama bertahun-tahun. Tapi <em>on other side</em>, karena jam kerja kami berdua sama, jadi dijamin calon anak kami tersebut tidak akan bertemu dengan orang tuanya selama 8 jam setiap harinya, itu berarti 48 jam seminggu, itu berarti 2.400 jam setahun dan ketika dia menginjak 5 tahun, 12.100 jam dia tidak bertemu dengan kedua orang tuanya. Wow, angka yang luar biasa&#8230;</p>
<p>Pada umur sang bayi sudah menginjak 6 bulan, akhirnya pilihan tersebut harus segera di centang salah satu untuk harus segera dilaksanakan. Akhirnya, istri saya dengan hati yang mantap dia memilih untuk mengorbankan masa depan karir-nya dan memilih melindungi masa depan anak kami nanti. Saya waktu itu sempat terharu melihat kemantapan hatinya yang 3 bulan sebelumnya menjadi dilema besar buat dia. Dia bertekad untuk membentuk karakter anak-nya kelak dengan tangannya sendiri. Daripada nyawa anaknya diserahkan pada orang lain. Dia ingin setiap menit bahkan detik perkembangan anak-nya tersebut ada dalam pengawasan mata-nya sendiri tidak melalui cerita dari si pengasuhnya.</p>
<p>Istri saya pernah bertanya pada saya, &#8220;Apakah nanti Farrel (nama anak kami), tahu akan pengorbanan saya?&#8221;. Saya pun menjawab, &#8220;Ketika hamil, kamu yang merasakan sakit, ketika melahirkan kamu yang memberikan separuh nyawa kamu dan nanti setelah lahir pun kamu membuang semua masa depan karir kamu. Ya, nanti pasti Farrel akan tahu&#8230;&#8221;</p>
<p>Banyak pertanyaan atas sikap istri saya tersebut, bagaimana dengan pendapatan rumah tangga? Uang tidak bisa di dapat dari perusahaan saja, banyak sekali cara mendapatkan uang dari rumah, dari menjahit, membuat roti, bisnis internet, kerajinan dan masih banyak lagi. Dan sekarang istri saya pun baru merintis apa yang bisa dikerjakan di rumah untuk menambah pendapatan rumah tangga kami karena anak kami sekarang ini sudah mulai sekolah dan banyak waktu luang yang bisa digunakan.</p>
<p>Beberapa ibu sering kali, tidak mau mengorbankan masa depan karirnya dengan berbagai alasan. Dari tidak mau kesepian di rumah, takut kehilangan pendapatan, takut kehilangan teman-teman sekerja. Tapi apakah anda tidak takut akan kehilangan masa depan anak yang anda kasihi, apakah anda juga tidak memikirkan anak anda juga membutuhkan belaian kasih sayang dari tangan ibunya sendiri, apakah anda tahu bahwa anak anda juga kesepian jika tidak berada di dalam dekapan ibunya? Jika anda telah mengorbankan segalanya buat anak anda, anda adalah seorang ibu yang sangat mulia&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.edisusanto.com/pilihan-mulia-seorang-ibu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Don&#8217;t Shop When You&#8217;re Hungry</title>
		<link>http://www.edisusanto.com/dont-shop-when-youre-hungry/</link>
		<comments>http://www.edisusanto.com/dont-shop-when-youre-hungry/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Jun 2008 01:52:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bart. Edi</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Daily Life]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[penghematan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.edisusanto.com/?p=128</guid>
		<description><![CDATA[Suatu hari saya ketika pulang kerja, saya mengajak anak dan istri saya untuk pergi ke satu supermaket di dekat rumah saya. Dan rencana awal sih hanya ingin jalan-jalan dan membelikan anak saya jajanan coklat dan roti. Karena biasanya anak saya kalau bangun tidur yang diserbu dulu adalah kulkas untuk mengganjal perutnya setelah 8-9 jam tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Suatu hari saya ketika pulang kerja, saya mengajak anak dan istri saya untuk pergi ke satu supermaket di dekat rumah saya. Dan rencana awal sih hanya ingin jalan-jalan dan membelikan anak saya jajanan coklat dan roti. Karena biasanya anak saya kalau bangun tidur yang diserbu dulu adalah kulkas untuk mengganjal perutnya setelah 8-9 jam tidak diisi waktu tidur.<span id="more-128"></span></p>
<p>Akhirnya mulailah kita belanja, seperti biasa kalau kita belanja itu jalannya mulai dari deret rak pertama sampai deret rak terakhir. Waktu belanja ngga terasa, ngga cuma coklat dan roti yang kita ambil, dari sosis, ayam goreng, roti tawar, durian monthong, sampai ubi jalar pun diambil. Dan ketika akan membayar, kami baru terasa bahwa belanjaanya sudah begitu banyak dan melenceng dari tujuan awal. Selidik demi selidik, ternyata waktu itu saya lapar sekali karena dari bangun tidur, kerja sampai belanja belum makan sama sekali (saya mempunyai pola makan yang amburadul sama sekali).</p>
<p>Akhirnya setelah membayar dan pulang ke rumah, semua makanan yang terbeli itu hanya termakan sedikit saja. Dan setelah dilihat belanjaan kami itu banyak barang sebetulnya yang tidak kami butuhkan dan membuang-buang uang saja. Dan memang pepatah yang mengatakan &#8220;Jangan belanja ketika anda lapar&#8221; itu adalah benar adanya. Ini juga salah satu tips lagi untuk menghemat keuangan kita, pastikan sebelum berbelanja kita berangkat dengan perut kenyang sehingga tidak ada pengeluaran yang berlebihan.</p>
<p>Ini juga tidak hanya berlaku terhadap lapar terhadap arti harafiahnya, tetapi juga berlaku ketika anda lapar &#8216;belanja&#8217;, biasanya ketika setelah anda mendapat gaji. Ketika anda di suatu supermaket besar begitu, pasti barang-barang elektronik yang tidak dibutuhkan pun akan terbeli dengan kondisi seperti itu. Dan penghematan pun dijaman yang sulit itu akan susah untuk dilaksanakan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.edisusanto.com/dont-shop-when-youre-hungry/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kejamnya Dunia Komputer</title>
		<link>http://www.edisusanto.com/kejamnya-dunia-komputer/</link>
		<comments>http://www.edisusanto.com/kejamnya-dunia-komputer/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Jun 2008 13:31:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bart. Edi</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Daily Life]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Pemrograman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.edisusanto.com/?p=110</guid>
		<description><![CDATA[Saya masih ingat sekali, waktu untuk pertama kali-nya saya belajar tentang komputer 14 tahun yang lalu. Waktu itu masih memakai MS-DOS 6.22, jadi jangan &#8216;iri&#8217; kalau saya masih ingat semua command DOS sampai sekarang. Dengan WordStar saja, waktu itu saya merasa sudah ‘menguasai dunia’. Dan juga untuk pertama kalinya saya belajar Pascal dan QBasic walaupun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya masih ingat sekali, waktu untuk pertama kali-nya saya belajar tentang komputer 14 tahun yang lalu. Waktu itu masih memakai MS-DOS 6.22, jadi jangan &#8216;iri&#8217; kalau saya masih ingat semua command DOS sampai sekarang. Dengan WordStar saja, waktu itu saya merasa sudah ‘menguasai dunia’. Dan juga untuk pertama kalinya saya belajar Pascal dan QBasic walaupun hanya menjiplak source code dari sana sini. Tetapi waktu itu rasanya sudah menggenggam ‘dunia perkomputeran’ padahal kenyataannya 0,1% pun belum saya genggam.<span id="more-110"></span></p>
<p>Saya ingin menceritakan kisah ini setelah membaca artikel dari Bernaridho I. Hutabarat di PCMEDIA edisi 06/2008 di artikelnya yang berjudul Tua-Tua Kelabu di artikel itupun dia menceritakan kisah perjalanan nya di dunia komputer.</p>
<p>Kembali ke perjalanan pembelajaran saya, waktu tahun 1995 saya pun mulai kadang membuka dBase sebagai pemrograman database waktu itu disamping ada Clipper dan versi awal Visual Basic yang menyertai kemunculan Windows 3.1. Ah… waktu itu untuk memanggil Windows 3.1 nya aja harus dari DOS Prompt yang waktu itu saya sampe keasikan membuat file <strong>config.sys</strong> dan <strong>autoexec.bat</strong> agar memorynya bisa termanage dengan baik. Tentu disaat perpindahan DOS ke Windows 3.1 harus belajar lagi sana-sini karena banyak sekali perubahan yang terjadi.</p>
<p>Lalu saya pun hijrah dari Blora ke Jakarta setelah lulus SMA, waktu itu saya berhenti belajar komputer dan akhirnya kembali lagi ke Blora sebagai kota kelahiran saya. Dan akhirnya di tahun 1996 saya hijrah ke Jogja dan bekerja serabutan dari pengamen (suer, saya benar-benar pernah mengamen) sampai akhirnya jadi sales dan teknisi komputer di sebuah toko komputer. Disitu saya keasikan untuk bermain hardware dan hobi ISIS (install sana install sini…) Dimasa ini Windows 95 muncul. Transisi Windows 3.1 ke Windows 95 pun mengharuskan saya (dan pengguna komputer lainnya) untuk belajar lagi hal-hal baru yang terjadi disitu. Padahal rasanya belajar Windows 3.1 belum juga abis materinya.</p>
<p>Setelah itu saya pindah kerja kesebuah game center di galeria mal, disitu setelah 10 tahun saya merasakan banyak sekali perubahan di dunia komputer, percepatan selama 10 tahun terakhir ini benar-benar membuat saya tertegun. Dari Windows 97 (Windows 95b), Windows NT, Windows 98, Windows 2000, Windows XP, Windows 2003, Windows Server 2008, Windows Vista. Benar-benar membuat saya tertegun sejenak. Selama itu pun saya belajar dari bahasa Java, PHP, Visual Basic disamping ada SQL. SQL pun mengalami perubahan yang tidak sedikit, sekarang pun harus belajar Store Procedure, Triggers dan lainnya.</p>
<p>Dari sedemikian banyaknya pilihan akhirnya saya mendalami Visual Basic 6 dan SQL karena yang diperlukan untuk membuat program database yang di Indonesia masih menjadi tambang emas untuk membuat uang. Belajar VB6 sebentar keluar VB.Net, VB.NET 2003, VB 2005 dan bernafas pun belum abis sekarang sudah keluar Visual Basic 2008. Dan masih dengan platform .NET nya yang sudah sampai versi 3. Benar-benar gila… Padahal antara versi lama dan versi baru pasti ada hal-hal perubahan yang harus anda pelajari lagi.<br />
Bernaridho I. Hutabarat membandingkan dengan dokter gigi, ilmu 20 tahun yang lalu masih bisa dipakai hari ini untuk memperbaiki gigi yang rusak. Tapi kalau anda seorang programmer jangan harap ilmu yang anda dapat 20 tahun yang lalu bisa anda terapkan sekarang. 20 tahun yang lalu anda baru bisa bekerja dengan algortitma prosedural, sekarang? Harus OOP (Object Oriented Programming).</p>
<p>Selain itu sebagai programmer tidak jarang anda harus merangkap sebagai, Database Administrator (DBA), Network analyze, system analyze. Padahal dari semua ilmu itu juga ada perubahan-perubahan yang tidak sedikit. Misalnya, sekarang anda harus mulai belajar IPv6 jika mau tetap bisa membuat jaringan di masa depan. SQL Server pun mengalami perkembangan yang luar biasa, anda pun harus belajar lagi untuk menggunakan versi-versi baru tersebut.</p>
<p>Memang, sebagai programmer hal yang penting yang harus kuasai adalah algorithma dan logika. Tetapi kalau anda tidak hafal syntax bahasa dan teknik-teknik dari bahasa pemrograman yang anda pegang, hal itu menjadi benar-benar konyol… Sehingga membuat anda harus terus update ilmu anda secara berkesinambungan dan membuat anda tidak pernah beristirahat… anda belajar keras hari ini mempelajari VB6 hari ini, ilmu itu akan tidak terpakai waktu anda gunakan ke VB 2008. Error trapping nya beda, compilingnya beda, syntax banyak yang berubah…</p>
<p>Huhhh, betapa beratnya jadi seorang programmer… betapa kejamnya dunia komputer.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.edisusanto.com/kejamnya-dunia-komputer/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menghitung Masa Depan</title>
		<link>http://www.edisusanto.com/menghitung-masa-depan/</link>
		<comments>http://www.edisusanto.com/menghitung-masa-depan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 May 2008 00:55:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bart. Edi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[My Daily Life]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Inflasi]]></category>
		<category><![CDATA[Keuangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.edisusanto.com/?p=73</guid>
		<description><![CDATA[Sebagai seorang suami dan ayah dari seorang anak, saya harus pandai berhitung tentang masa depan saya sehingga masa depan rumah tangga saya bisa tergaransi dengan baik. Dengan kondisi ekonomi seperti sekarang ini, tentu sedikit banyak akan membuat bulu kuduk saya semakin merinding. Seperti kenaikan BBM yang sudah didepan mata dengan harga baru sebesar Rp.6.000, ancaman [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft alignnone size-full wp-image-74" style="margin: 5px; float: left;" src="http://www.edisusanto.com/wp-content/uploads/2008/05/dollar_money.jpg" alt="" width="180" height="120" />Sebagai seorang suami dan ayah dari seorang anak, saya harus pandai berhitung tentang masa depan saya sehingga masa depan rumah tangga saya bisa tergaransi dengan baik. Dengan kondisi ekonomi seperti sekarang ini, tentu sedikit banyak akan membuat bulu kuduk saya semakin merinding. Seperti <a href="http://www.edisusanto.com/bagaimana-persiapan-kita-menghadapi-kenaikan-bbm/">kenaikan BBM</a> yang sudah didepan mata dengan harga baru sebesar Rp.6.000, ancaman inflasi negara menjadi semakin tinggi, suku bunga kredit yang naik (maklum masih KPR), dan chain effect reaction lainnya yang akan timbul dari kenarikan harga BBM ini.<span id="more-73"></span></p>
<p>Seperti anda ketahui bahwa inflasi negara sering bertengger di angka 10%, di tahun belakangan ini agak turun ke sekitar 8,88%. Dan meskipun terlihat turun inflasi sebesar itu sebetulnya masih tergolong mengerikan. Banyak orang mengira bahwa inflasi negara tidak berpengaruh banyak ke kehidupan pribadi kita. Apakah itu betul? Sayangnya, anggapan itu salah. Inflasi akan menurunkan nilai uang kita secara langsung. Koq bisa? Jika negara kita dalam satu tahun mempunyai inflasi sebesar 10%, maka gampangannya kemampuan beli kita akan turun sebesar 10%. Jika anda mempunyai pendapatan sebesar 1jt di tahun 2005 dan di tahun 2006 anda tidak mendapat kenaikan pendapatan maka kemampuan beli anda akan berkurang sebesar inflasi tersebut. Karena biaya hidup akan merangkak naik menyesuaikan inflasi tersebut dan besarannya bisa lebih atau kurang dari nilai inflasi.<br />
Nah, melihat harga tersebut tentunya akan memaksa saya untuk segera mengambil langkah-langkah untuk menyelamatkan masa depan rumah tangga saya.<br />
<strong> Yang pertama</strong>, biasa harus terjadi penghematan di pengeluaran dan ini langkah yang paling gampang untuk di capai.<br />
<strong> Yang kedua</strong>, menambah pendapatan rumah tangga saya, entah mau jual makanan, kerajinan, bisnis online (yang sekarang baru digeber hehehe) atau dari sektor yang lain. Karena kalau pendapatan anda naik hanya sebesar 4-5% setahun maka kemampuan beli anda akan tergerogoti sebesar nilai inflasi – kenaikan pendapatan anda. Misal kalau pendapatan anda diproyeksi naik sebesar 4% setahun sedangkan inflasi sebesar 9% maka kemampuan beli anda akan tergerogoti sebesar 5% dan tentu anda tidak menginginkan hal ini terjadi.<br />
<strong> Yang ketiga</strong>, ikut asuransi pendidikan dan kesehatan. Anda pasti sudah tahu, biaya pendidikan akan menggila ditahun-tahun kedepan ini dan juga biaya kesehatan. Dengan ikut asuransi tentu akan menghemat dan pengeluaran di sector ini bisa menjadi <em>manageable</em>.</p>
<p>Untuk langkah keempat maukah anda sharing dengan saya?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.edisusanto.com/menghitung-masa-depan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Seorang Ahli Strategi Perang</title>
		<link>http://www.edisusanto.com/kisah-seorang-ahli-strategi-perang/</link>
		<comments>http://www.edisusanto.com/kisah-seorang-ahli-strategi-perang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Apr 2008 02:07:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bart. Edi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Dongeng]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.edisusanto.com/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[Kalau anda pernah membaca tentang Tiga Kerajaan atau biasa orang mengenalnya dengan Samkok, tentu anda mengenal seorang ahli strategi perang yang ulung bernama Zhuge Liang. Bahkan beberapa ahli sejarah mengatakan bahwa Zhuge Liang adalah ahli strategi perang paling ulung sepanjang jaman, terlepas apakah hal itu benar atau tidak paling tidak ada sebuah cerita dari riwayat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" style="float: left; margin: 3px;" title="" src="http://www.edisusanto.com/wp-content/uploads/2008/04/225px-zhuge_liang.jpg" alt="" />Kalau anda pernah membaca tentang Tiga Kerajaan atau biasa orang mengenalnya dengan Samkok, tentu anda mengenal seorang ahli strategi perang yang ulung bernama <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Zhuge_Liang" target="_blank">Zhuge Liang</a>. Bahkan beberapa ahli sejarah mengatakan bahwa Zhuge Liang adalah ahli strategi perang paling ulung sepanjang jaman, terlepas apakah hal itu benar atau tidak paling tidak ada sebuah cerita dari riwayat hidupnya yang patut kita ambil intisarinya. Zhuge Liang dikenal dengan sesosok yang selalu membawa kipas dari bulu bangau dan memakai jubah bergambar patkwa (bentuk segi delapan).<span id="more-25"></span></p>
<p>Cerita ini dimulai waktu Zhuge Liang masih kecil dan waktu itu dia belum dapat berbicara. Hingga suatu hari datang seorang biksu Buddha Tao yang bertemu Zhuge Liang dan menawarkan untuk belajar ilmu kepada-nya dan juga biksu ini juga mengatakan bahwa dia bisa membuat Zhuge Liang berbicara. Akhirnya orang tua Zhuge Liang setuju.</p>
<p>Lalu mulailah Zhuge Liang belajar pada biksu itu. Dan akhirnya dia bisa berbicara! Dan dia dikenal sebagai murid yang cerdas dan baik dan biksu itu mulai menyukai dan bangga terhadap Zhuge Liang.</p>
<p>Sampai pada suatu hari, waktu dia melewati satu kuil dan tiba-tiba datang badai dan dia langsung masuk ke kuil itu untuk berteduh. Ternyata di dalam kuil itu ada seorang perempuan cantik sekali. Akhirnya Zhuge Liang ngobrol dengan perempuan itu dan setelah hujan berhenti, dia pamit pulang. Kisah selanjutnya bisa di duga, Zhuge Liang akhirnya dekat dengan perempuan itu, setiap dia pulang “sekolah” dia selalu mampir ke kuil itu dan selalu bertemu dengan perempuan itu.</p>
<p>Prestasi di “sekolah” nya lama-lama luntur dan mulai memburuk. Biksu yang sebagai gurunya pun melihat perkembangan itu dan lalu berkata pada Zhuge Liang, “Lebih mudah menghancurkan sebuah pohon daripada menanam sebuah pohon!”. Biksu itu marah dan Zhuge Liang menunduk Biksu itu lalu menunjuk ke sebuah pohon yang dililit oleh banyak tanaman merambat.</p>
<p>Biksu itu berkata, “Lihat pohon besar itu susah tumbuh sedangkan yang melilit itu malah tumbuh subur, kamu tau kenapa?”.</p>
<p>Zughe Liang menjawab, “Karena di dililit oleh banyak tanaman merambat”</p>
<p>Biksu itu menimpali, “Benar sekali, tanaman besar itu susah tumbuh karena hidup di tandah yang cadas dan tanah yang sedikit, sedangkan tanaman yang melilit itu mengembangkan akarnya  dan cabangnya, Jadi lucukan kalau dilihat tanaman yang merambat lembut itu mengalahkan pohon yang besar itu.”</p>
<p>Zhuge liang kaget, “Guru tahu ya kunjungan saya ke kuil itu?”.<br />
Biksu Tao ini pun berkata, “Kamu perlu tahu bahwa wanita itu adalah jelmaan dari bangau yang diusir dari surga, dia diusir karena mamakan dan mencuri buah persik Ratu Langit. Jadi dia adalah bangau yang rusak moralnya dan tahunya hanya bersenang-senang saja, jika kamu masih mau sungguh-sungguh belajar, kamu tidak boleh berhubungan lagi dengan siluman bangau itu.”</p>
<p>Sambil memberikan tongkat kepada Zhuge Liang, biksu ini berkata, “Kamu harus mengusir siluman itu dulu, datanglah ke kuil itu pada malam hari karena pada malam hari siluman bangau itu kembali ke surga dan mandi disana. Dia bisa menjadi manusia kalau memakai jubahnya, dan jubah itu sekarang ada di kuil itu, bakar jubah itu. Dan jika tahu dan menyerang kamu, pukul dengan tongkat ini.”</p>
<p>Dan Zhuge Liang pun langsung menurut dengan gurunya itu, berangkatlah dia ke kuil pada siang hari dan ternyata dia menjumpai jubah itu benar-benar ada disana dan dia langsung membakar jubah itu. Siluman bangau pun tahu dan langsung turun ke bumi dan menyerang Zhuge Liang, dia pun langsung memegang ekor bangau itu dan memukul dengan tongkat pemberian gurunya. Bangau itu pun memberontak dan bangau itu berhasil lari tapi ekornya terlepas dari bangau itu karena Zhuge Liang memegangnya dengan erat. Waktu kembali ke gurunya, dia pun mendapat kata-kata yang bijak dari gurunya, “Ingat bahwa menanam sebatang pohon adalah jauh lebih sulit dan lama dibanding jika kamu membakarnya.”</p>
<p>Zhuge Liang pun sadar dan kembali pada konsentrasi pada sekolahnya, prestasinya pun kembali menjadi baik. Dan suatu hari gurunya memanggil dia dan berkata, “Ilmu yang ada padaku sudah saya turunkan semua padamu dan saatnya kamu mencari ilmu di luar sana”. Zhuge Liang pun kaget dan menjawab, “Ijinkanlah aku untuk tetap belajar pada guru”, tapi biksu ini tetap mengatakan bahwa sudah saatnya dia belajar di kehidupan yang lebih nyata. Dan Zhuge Liang berkata, “Kalau begitu, ijinkanlah saya memberi sembah sujud saya yang terakhir pada guru” lalu Zhuge Liang langsung membungkuk untuk memberi hormat. Waktu dia berdiri, biksu Tao itu sudah tidak ada disana dan yang tertinggal hanyalah jubah gurunya itu.</p>
<p>Akhinya jubah itu dipakainya dan bulu bangau itu dibawa terus sebagai sebuah kipas. Dia berkata, “Biarlah bulu bangau ini menjadi peringatan buat saya akan kebangkitan saya dari kejatuhan saya dan biar saya tidak mengulanginya lagi”</p>
<p>Sebuah cerita yang membangkitkan bagi saya! Diluar bahwa cerita ini adalah fiksi atau non fiksi tapi cerita itulah yang menyadarkan dan mengingatkan untuk mencoba mengilhami benar-benar bahwa membangun kepercayaan adalah suatu yang sangat susah dan butuh waktu yang lama dan butuh waktu yang sangat singkat untuk menghancurkannya. Itu berlaku dimana saja kita berada, pada teman kerja, orang tua, guru dan siapa saja. Saya pun pernah mengalami hal ini dan saya pikir siapa pun akan mudah jatuh pada pencobaan yang satu ini jadi berhati-hatilah.</p>
<blockquote><p>Lebih mudah menghancurkan sebuah pohon daripada menanam sebuah pohon!</p></blockquote>
<p><em>Cerita ini saya ambil dari <a href="http://www.clearwisdom.net/emh/articles/2005/10/5/65590.html" target="_blank">Clear Wisdom</a> dan saya terjemahkan dengan disingkat-singkat jadi kalau ingin tahu cerita lengkapnya klik link tersebut.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.edisusanto.com/kisah-seorang-ahli-strategi-perang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

