<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Edi Susanto dot Com &#187; Marketing</title>
	<atom:link href="http://www.edisusanto.com/category/marketing/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.edisusanto.com</link>
	<description>Ruang-ku Untuk Berbagi Cerita</description>
	<lastBuildDate>Fri, 16 Dec 2011 22:53:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>IBM Lotus Symphony</title>
		<link>http://www.edisusanto.com/ibm-lotus-symphony/</link>
		<comments>http://www.edisusanto.com/ibm-lotus-symphony/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Oct 2008 04:56:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bart. Edi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Komputer]]></category>
		<category><![CDATA[Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[IBM Lotus Symphony]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.edisusanto.com/?p=328</guid>
		<description><![CDATA[Sudah lama saya mendengar tentang lanjutan dari seri aplikasi yang di tahun 80&#8242;n sangat terkenal yaitu Lotus 1-2-3. Kalau ada sudah berkecimpung di dunia komputer di tahun 80-90 tentu anda sudah pernah mencoba aplikasi spreadsheet yang sangat terkenal itu. Nah, IBM bermaksud untuk melanjutkan aplikasi yang luar biasa itu dengan menjelma menjadi IBM Lotus Symphony [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-327" title="ibm_symphony" src="http://www.edisusanto.com/wp-content/uploads/2008/10/ibm_symphony.jpg" alt="" width="400" height="134" /></p>
<p>Sudah lama saya mendengar tentang lanjutan dari seri aplikasi yang di tahun 80&#8242;n sangat terkenal yaitu Lotus 1-2-3. Kalau ada sudah berkecimpung di dunia komputer di tahun 80-90 tentu anda sudah pernah mencoba aplikasi spreadsheet yang sangat terkenal itu. Nah, IBM bermaksud untuk melanjutkan aplikasi yang luar biasa itu dengan menjelma menjadi IBM Lotus Symphony dan yang mengagetkan saya adalah it&#8217;s free bro!<span id="more-328"></span></p>
<p>Ya anda bisa mengunjungi website <a href="http://symphony.lotus.com/software/lotus/symphony/home.nsf/home">IBM Lotus Symphony</a> dan mengunduhnya secara gratis. Saya mendapatkannya melalui CD dari majalah PC Media, maklum saya ngga punya koneksi internet yang mumpuni. Ukuran file-nya hampir 200MB jadi kalau di unduh sendiri bisa berhari-hari tuh baru selesai.</p>
<p>Saya pun mencoba untuk install program tersebut di komputer saya, proses instalasi sangat mudah dan cuma memakan waktu sekitar 15 menit saja. Di Lotus Symphony kita mendapatkan tiga aplikasi tapi tergabung di satu suite saja yaitu Spreadsheet, Document dan Presentation. Kalau di Microsoft Office, Spreadsheet sepadan dengan Excel, Document dengan Word dan Presentation dengan PowerPoint.</p>
<p>Yang paling saya sukai dari program ini salah satunya adalah model tab nya. Jadi kalau kita sedang bekerja 3 pekerjaan spreadsheet, maka kita akan mempunyai 3 tab tersebut, tinggal klik tab-tab tersebut untuk berpindah antar tab. Bahkan kita kalau bekerja document dan spreadsheet pun kita akan bekerja masih dalam satu window.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-329" title="tab_symphony" src="http://www.edisusanto.com/wp-content/uploads/2008/10/tab_symphony.jpg" alt="" width="450" height="81" /></p>
<p>Dan satu lagu fitur yang menurut saya jadi fitur masa depan adalah Plugins. Ya, selain Macro yang juga bisa dibuat di Symphony menggunakan bahasa BASIC juga seperti Microsoft Office dengan adanya Plugins anda bisa menambahkan fitur-fitur lain sesuai kehendak kita (inget ceritanya Firefox yang dengan Add-ons nya bisa membuat browser ini menjadi hebat). Untuk install plugins klik saja menu <strong>File</strong> -&gt; <strong>Application</strong> -&gt; <strong>Install</strong>.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-331" title="plugins_symp" src="http://www.edisusanto.com/wp-content/uploads/2008/10/plugins_symp.jpg" alt="" width="450" height="403" /></p>
<p>Nah, ngga ada salah nya anda juga mencoba aplikasi yang ini&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.edisusanto.com/ibm-lotus-symphony/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apa Modal Terbesar Kita?</title>
		<link>http://www.edisusanto.com/apa-modal-terbesar-kita/</link>
		<comments>http://www.edisusanto.com/apa-modal-terbesar-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jun 2008 05:17:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bart. Edi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[My Daily Life]]></category>
		<category><![CDATA[Teknik menjual]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.edisusanto.com/?p=121</guid>
		<description><![CDATA[Suatu saat, saya ditawari produk penghemat listrik untuk perusahaan saya. Berhubung saya adalah kepala cabang di outlet perusahaan saya itu, maka saya yang harus menangani semua itu. Akhirnya pimpinan dari perusahaan penyedia alat penghemat listrik itu ngobrol dengan saya. Beliaunya pertama mengintoduksi produk tersebut pada saya. Seperti biasa orang mengetahui produk baru, saya lalu bertanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Suatu saat, saya ditawari produk penghemat listrik untuk perusahaan saya. Berhubung saya adalah kepala cabang di outlet perusahaan saya itu, maka saya yang harus menangani semua itu. Akhirnya pimpinan dari perusahaan penyedia alat penghemat listrik itu ngobrol dengan saya. Beliaunya pertama mengintoduksi produk tersebut pada saya. Seperti biasa orang mengetahui produk baru, saya lalu bertanya perbedaan dengan produk lain dan pertanyaan-pertanyaan standard lainnya. Dan dikarenakan suatu hal meskipun saya tertarik dengan produk tersebut, saya memutuskan untuk menolak produk itu sementara waktu. Padahal waktu itu KwH meter saya sudah dicatat selama seminggu untuk data.<span id="more-121"></span></p>
<p>Sampai suatu saat saya teringat lagi dengan produk itu dan itu terjadi setahun kemudian. Tetapi ketika saya menghubungi penjual itu kembali, saya masih disambut dengan baik dan akhirnya sampailah terjadi kesepakatan untuk penggunaan alat penghemat listrik tersebut.</p>
<p>Banyak hal yang saya salut terhadap penjual ini, model <em>MOU (Memorandum Of Understanding)</em> yang dibuat adalah 2 minggu pertama, kWh meter saya dicatat sebelum alat itu dipasang, lalu alat dipasang dan kemudian kWh meter akan dicatat lagi untuk komparasi data selama 2 minggu. Penjual alat itu mengatakan bahwa alat itu bisa menghemat listrik ditoko saya sebanyak 10-30%.</p>
<p>Setelah dua minggu berlalu dan kWh meter saya selalu dicatat, keluarlah hasilnya bahwa alat itu hanya bisa menghemat sebanyak 2,2% saja. Kemungkinan f<em>orm facto</em>r listrik gedung sudah efisien jadi ngga bisa di efektifkan lagi. Kalau mutu alatnya saya sedikit yakin karena ada beberapa teman saya juga memasang alat itu di perusahaannya dan berhasil menghemat sebanyak rata-rata 27%.</p>
<p>Lalu kita ketemu lagi untuk membahas hasilnya yang dibawah standard itu. Lalu dia mengatakan bahwa alat akan dicabut dan saya ngga kena charge sama sekali. Hebatnya lagi dia mengatakan, &#8220;Saya jual penghematan bukan alatnya pak&#8221;. Jarang sekali saya ketemu penjual seperti itu. Meskipun dia juga harus menjual sebanyak mungkin tetapi kalau memang alat itu tidak terbukti dia justru menyarankan untuk beli. Biasanya juga kita membeli alat seperti itu adalah seperti membeli kucing dalam karung, kita ngga tau apakah alat itu benar-benar menghemat.</p>
<p>Dalam obrolan kita itu, dia berkata, &#8220;Saya mending ngga dapat uang daripada saya kehilangan hubungan dengan bapak, bagi saya yang terpenting adalah orang mempercayai saya dan bukan produk saya&#8221;. Wow&#8230; coba bayangkan kalau lain kali saya ditawari produk lain oleh dia, saya pasti langsung percaya dengan dia, apapun produknya. Sebegitu kuatnya arti kepercayaan bagi orang lain. Lalu dia berkata, &#8220;Kalau pun bapak memaksa membeli alat ini, saya tidak akan ijinkan, karena saya berarti membohongi bapak dan juga karena saya berarti tidak menjual apa-apa, karena yang saya jual adalah penghematan listrik, kalau listrik bapak tidak semakin hemat lalu uang saya terima itu untuk membayar apa?&#8221;</p>
<p>Banyak hal yang saya pelajari dari sang penjual alat penghemat listrik ini. Dan satu poin yang saya ingat sampai sekarang adalah ternyata modal terbesar kita dalam berbisnis bukanlah uang semata, tetapi lebih daripada itu adalah jaringan pertemanan yang kuat dan tidak dinodai oleh ketidak percayaan. Dan akhirnya alat itupun dicopot dan saya tidak membayar sepeserpun atas trial nya itu, tetapi si penjual itu mendapat kepercayaan dari saya dan perusahaan saya. Itulah modal terbesar kita dalam berbisnis dengan siapapun.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.edisusanto.com/apa-modal-terbesar-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jadilah Penjual Yang Jujur</title>
		<link>http://www.edisusanto.com/jadilah-penjual-yang-jujur/</link>
		<comments>http://www.edisusanto.com/jadilah-penjual-yang-jujur/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Apr 2008 03:51:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bart. Edi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[My Daily Life]]></category>
		<category><![CDATA[Menjual]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.edisusanto.com/?p=35</guid>
		<description><![CDATA[Kemarin sore, saya dan keluarga pergi ke suatu supermarket di jalan Godean, Yogyakarta. Niat saya hanya untuk jalan-jalan saja dari awalnya. Setelah kami masuk, sampailah di counter yang jual frozen foods termasuk chicken nugget. Kebetulan persediaan chicken nugget anak saya udah habis dan kami mencari alternatif chicken nugget dengan harga discount. Lalu ada penjualnya menawarkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kemarin sore, saya dan keluarga pergi ke suatu supermarket di jalan Godean, Yogyakarta. Niat saya hanya untuk jalan-jalan saja dari awalnya. Setelah kami masuk, sampailah di counter yang jual frozen foods termasuk chicken nugget. Kebetulan persediaan chicken nugget anak saya udah habis dan kami mencari alternatif chicken nugget dengan harga discount. Lalu ada penjualnya menawarkan pada kami sebuah produk chicken nugget yang belum pernah kami lihat sebelumnya dengan harga sangat murah.<span id="more-35"></span></p>
<p>Penjualnya lalu meyakinkan dan berkata bahwa harga normalnya itu mahal (selisih sedikit dengan harga chicken nugget yang biasa kami beli) dan karena ini adalah harga promo maka harga menjadi murah. Istri saya pun tertarik untuk membeli chicken nugget itu karena mumpung murah karena ada promo. Tetapi istri saya mulai bertanya-tanya masalah kualitasnya dibanding dengan merek yang biasa kami beli. Penjual itu pun menjawab, &#8220;Dijamin ngga kalah dan rasanya pasti lebih enak daripada merk yang biasa ibu beli itu, saya jamin!&#8221;. Karena si penjual ini berhasil meyakinkan kami dengan kata-kata &#8220;Saya jamin!&#8221; nya itu maka istri saya memutuskan untuk membeli chicken nugget itu.</p>
<p>Setelah sampai di rumah, anak saya mau digorengkan chicken nugget yang baru dibeli itu. Setelah di masak anak saya pun bilang kalau rasanya ngga enak. Istri saya pun ikut mencicipinya dan memang rasanya benar-benar ngga enak dan banyak tepungnya daripada ayamnya. Lalu istri saya bilang, &#8220;Ya&#8230; tertipu.&#8221; dan dia berkata bahwa dia kapok beli lagi produk dengan merk itu dan kapok belanja di supermarket itu karena di mata istri saya, supermarket itu sudah menipu dia.</p>
<p>See? Kalau anda melakukan hal itu, menjadi penjual yang menjanjikan di luar kenyataanya, hari ini barang anda laku karena anda menipu pelanggan tapi setelah itu anda akan mendapat antipati tidak hanya pada produknya tapi juga pada anda sebagai penjual. Jika di lain kesempatan si penjual chicken nugget itu menjual produk lain tentu istri saya ngga akan beli karena sudah tidak ada lagi kepercayaan kepada penjual itu.</p>
<p>Jual lah barang anda dengan cara-cara yang lebih terhormat katakan kelebihan dan kekurangan produk yang anda jual dengan begitu pelanggan akan melihat bahwa anda adalah penjual yang jujur dan dapat diandalkan. Jika barang anda tidak terjual hari ini, at least anda sudah menjadi penjual yang baik dan suatu hari pelanggan itu akan membeli barang yang anda jual dengan suasana percaya atau bahkan dia akan merekomendasikan produk anda ke orang lain. Dengan begitu anda mau menjual barang apa pun, orang akan ikut dengan anda&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.edisusanto.com/jadilah-penjual-yang-jujur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjual Dengan Hati</title>
		<link>http://www.edisusanto.com/menjual-dengan-hati/</link>
		<comments>http://www.edisusanto.com/menjual-dengan-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Apr 2008 04:53:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bart. Edi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[Menjual]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.edisusanto.com/?p=33</guid>
		<description><![CDATA[Di era yang serba kompetitif ini, para pemilik usaha di bidang usaha apapun akan menghadapi persaingan yang sangat sengit. Banyak usaha dilakukan untuk menjadi pemenangnya. Dari membuat tokonya menjadi besar, bersih dan mengkilat; hire para SPG yang cantik-cantik sehingga produk-nya menjadi semakin eye catching saja. Tetapi ada sisi yang sering dilupakan oleh para pebisnis ini. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di era yang serba kompetitif ini, para pemilik usaha di bidang usaha apapun akan menghadapi persaingan yang sangat sengit. Banyak usaha dilakukan untuk menjadi pemenangnya. Dari membuat tokonya menjadi besar, bersih dan mengkilat; <em>hire</em> para SPG yang cantik-cantik sehingga produk-nya menjadi semakin <em>eye catching</em> saja. Tetapi ada sisi yang sering dilupakan oleh para pebisnis ini. Saya akan menceritakan suatu cerita yang menarik.<span id="more-33"></span></p>
<p>Disebuah toko sepatu, ada seorang pria yang hendak membeli sepasang sepatu. Setelah memilih sana-sini akhirnya disepakati harga dan jenis sepatunya. Akhirnya si pria ini membawa pulang sepatu itu. Karena si pria ini takut dengan istrinya lalu dia membuang dos/kotak sepatu dan nota pembelian dari sepatu itu dengan harapan istri-nya tidak curiga kalau dia beli sepatu itu.</p>
<p>Alhasil, ketika dia akan memakai sepatu itu, dia merasakan ada bagian sepatu itu yang tidak nyaman di kaki-nya dan membuat dia berpikir untuk mengembalikan sepatu itu. Tapi dia bingung karena dos dan nota pembelian-nya udah dibuang entah kemana. Seperti diketahui, bahwa jika anda akan komplain atas barang yang sudah anda beli, barang dan kemasannya harus utuh seperti waktu beli dan nota pembelian pun jadi satu keharusan agar anda dapat mengklaim barang tersebut.</p>
<p>Karena si pria ini tidak memiliki kedua &#8216;syarat&#8217; tersebut, dia pun bingung tapi dia akhirnya nekat datang ke toko sepatu dimana dia membeli sepatunya kemarin. Waktu dia komplain ke penjaga tokonya dan menjelaskan duduk permasalahannya, diluar dugaan si pria itu, si kasir langsung menukar sepatu yang bermasalah itu dan bahkan memberinya hadiah sepasang kaus kaki! Wow&#8230;</p>
<p>Jika anda menjadi pria itu, <em>next time</em> anda ingin membeli sepatu buat anak, istri atau diri anda sendiri, dimana jika anda akan membeli sepatu? Pasti di toko itu. Bayangkan hanya dengan sepasang kaus kaki saja sudah menjadi alat pemasaran yang luar biasa. Si pria itu akan <em>gethok tular</em> ke semua teman-temannya bahwa toko sepatu itu bagus.</p>
<p>Dimana letak kehebatan kasir tersebut? Dia menjual dengan hati yang tulus dan mau mengerti akan kesusahan pelanggannya. Meskipun akan ada orang bilang, &#8220;Ah&#8230; itu hanyalah taktiknya saja!&#8221; That&#8217;s no matter, <em>at least</em> dia bisa mempraktekkan taktik yang hebat buat pelanggan dan toko-nya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.edisusanto.com/menjual-dengan-hati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cross Selling</title>
		<link>http://www.edisusanto.com/cross-selling/</link>
		<comments>http://www.edisusanto.com/cross-selling/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Apr 2008 05:58:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bart. Edi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bisnis Online]]></category>
		<category><![CDATA[Marketing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.edisusanto.com/?p=29</guid>
		<description><![CDATA[Jika anda adalah seorang yang berkecimpung dalam dunia marketing, istilah cross selling tentu buka istilah yang asing. Beberapa asumsi sudah pernah saya dengar dari beberapa para master marketing di Indonesia ini. Karena saya adalah pengagum James Gwee, saya akan menggunakan istilah ini dari contoh-contoh yang telah dibicarakan oleh beliau. Menurut dari apa yang saya dengar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jika anda adalah seorang yang berkecimpung dalam dunia marketing, istilah cross selling tentu buka istilah yang asing. Beberapa asumsi sudah pernah saya dengar dari beberapa para master marketing di Indonesia ini. Karena saya adalah pengagum James Gwee, saya akan menggunakan istilah ini dari contoh-contoh yang telah dibicarakan oleh beliau.<span id="more-29"></span></p>
<p>Menurut dari apa yang saya dengar dan saya simpulkan (karena saya juga tidak pernah mengenyam pendidikan dibidang marketing secara khusus), cross selling adalah teknik menjual sesuatu barang/jasa yang berhubungan dengan suatu barang/jasa(CMIIW). Lalu berhubungannya dalam segi apa? Nah, ini menurut saya adalah seni-nya ilmu menjual itu, tinggal kreatifitas anda, anda mau ‘menembak’ nya dari segi apa.<br />
Ada satu contoh dari James Gwee yang menarik, suatu saat dia pernah membeli sebuah handycam. Ketika dia mau membayar handycam itu dia ditanya oleh sang penjual.</p>
<p>“Kamu mau memakainya untuk liburan kan James?”, tanya si penjual, dan James mengiyakan pertanyaan itu.</p>
<p>“Nah kalau di tempat wisata, you kan ngga bisa charge battery kamu jika habis”, kata si penjual dan James berpikir dan bertanya apa solusinya.</p>
<p>“Beli aja battery cadangan, jadi kalau habis tinggal ganti dengan battery cadangan”, jawab penjual (ini cross selling yang pertama) dan James akhirnya membeli battery cadangan itu.</p>
<p>“Lalu coba kamu pakai handycam itu James”, pinta si pembeli itu. Dan James pun mencobanya lalu hasil rekaman itu diputar ulang oleh si penjual dan dilihat James.</p>
<p>“Lihat James kamu shoot dengan tenang saja, gambarnya itu goyang-goyang apalagi kalau kamu nanti di tempat wisata, kamu kan pasti gerak-gerak tentu hasilnya lebih goyang daripada ini karena kamu bernafas maka handycam itu akan naik turun”, kata penjual itu, James pun kembali menanyakan solusinya.</p>
<p>“Beli aja Stabilizer nanti kan pasti gambarnya akan tenang”, jawab si penjual dan James pun akhirnya membeli stabilizer itu (ini cross selling yang kedua). Waktu James akan pulang, penjual itu berkata, “James kalau kamu pakai handycam itu maka kenangan yang terekam hanya anak dan istrimu karena yang shoot kan selalu kamu”</p>
<p>“Lalu gimana solusi nya”, tanya James. “Beli saja tripod, dengan tripod kamu bisa berpose dengan keluargamu, jawab si penjual (ini cross sell yang ketiga)</p>
<p>Akhirnya James membayar semuanya dan udag angkat 2 tas plastik itu dan sekali lagi si penjual tanya, “James, nanti kalau membawa handycam pakai apa? Masa mau pakai tas plastik itu?”, tanya penjual dan sekali lagi James tanya lalu apa saran sang penjual.</p>
<p>“Beli aja tas khusus handycam, dengan tas khusus itu ada tempat khusus buat battery, kaset video dan asesoris yang lainnya”, jawab si penjual (ini cross sell yang keempat).</p>
<p>Wow, waktu saya dengar cerita itu hebat benar tuh sang penjual. Dari orang hanya ingin beli handycam tapi bisa menjual battery, stabilizer, tripod dan tas. Dan kalau anda bisa menjual item yang kelima dan seterusnya maka semakin hebat saja anda sebagai seorang penjual.<br />
Hal itu bisa diterapkan pada apapun barang jualan anda. Misal kalau anda seorang penjual handphone apa yang anda sarankan kepada pembeli kalau ada orang beli handphone baru? Banyak sekali yang membuat orang mau beli asesoris handphone, dari screen protector, leather case, mobile charger, car charger, casing yang lucu-lucu dan seterusnya. Kemungkinan handphone nya ngga ada untung tapi dari asesoris-asesoris itu anda akan mendapat keuntungan yang lumayan.</p>
<p>Kalau anda sebagai pebisnis online? Saya ambil contoh, karena saya sering mengulas tentang komputer di website-website saya yang lain, maka saya memasang link affiliasi ke penjual software dan hardware. Kalau tema website anda adalah hewan peliharaan, kasi link-link ke affiliasi makanan hewan, kandang, alat-alat bermain dan seterusnya.</p>
<p>See?… dengan sedikit kreatifitas kita bisa menjual lebih banya dalam satu waktu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.edisusanto.com/cross-selling/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

